KBRN, Batam : Posisi Indonesia di negara ASEAN masih belum menjanjikan sebagai tujuan investasi. Wakil ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam, Beni Bevly mengatakan Indonesia berada di peringkat 15 se-Asia pasifik berdasarkan hasil penilaian konsultan Vriens & Partner. Sedangkan untuk ditingkat ASEAN, Indonesia hanya berada diatas negara myanmar dan laos atau berada di peringkat delapan.
"Kawasan tujuan investasi yang baik ditentukan oleh regulasi yang berlaku, keterbukaan terhadap perdagangan internasional, stabilitas politik, pajak dan tingkat korupsi di negara tersebut," ungkapnya dalam dialog jurnal ekonomi di RRI Batam dengan tema "Arus investasi dan capital di era Masyarakat Ekonomi ASEAN", Rabu (20/1/2016).
Namun demikian, Beni menilai Indonesia masih memiliki harapan untuk dapat meningkatkan peringkatnya sebagai tujuan investasi. Salah satu potensi perlu dioptimalkan adalah dengan mengelola Batam yang letaknya sangat strategis.
Sementara itu Direktur Humas dan Promosi Badan Pengusahaan (BP) Batam, Purnomo Andiantono mengakui bahwa persaingan ekonomi saat ini sudah tidak lagi bersifat antar daerah maupun negara, melainkan antar komunitas ekonomi internasional. Jauh sebelum diresmikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN, negara-negara eropa maupun amerika telah memiliki poros ekonomi masing-masing.
Andi mengaku optimis Batam dapat menjadi kawasan investasi strategis di Indonesia dan ASEAN. Seiring dengan peningkatan pelayanan, di tahun 2016 ini BP Batam telah merencanakan pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung perekonomian, seperti jalan dan pelabuhan.
"Batam juga harus memiliki kebijakan politik yang baik, tidak boleh berubah-ubah dan tiba-tiba. Karena kepercayaan dunia usaha sangat tergantung dari konsistensi kebijakan usaha yang berlaku," kata dia.
Kasubdit pelayana pelayanan modal BP Batam, Adi Soegiharto menambahkan, dalam rangka menunjang pelayanan investasi saat ini Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah memiliki layanan izin investasi 3 jam. Dengan layanan ini investor akan menerima layanan delapan produk perizinan plus satu surat booking tanah.
Produk-produk perizinan yang akan diberikan itu terdiri dari izin investasi, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Akta Pendirian Perusahaan dan SK Pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Izin Memperkerjakan Tenaga Asing (IMTA), Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), Angka Pengenal Importir Produsen (API-P), dan Nomor Induk Kepabeanan (NIK).
Untuk perkembangan investasi di Batam, Adi mengatakan nilai investasi Batam pada tahun 2015 lalu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. "Perusahaan yang sudah merealisasikan investasinya selama 2015 tercatat 64 proyek dengan total investasi 360 juta USD. Jika dibandingakan tahun 2014, nilai investasi naik sekitar 30 persen. Tapi memang terjadi pergeseran di bidang usaha yang berkembang, pada tahun 2015 investasi lebih ke sektor perdagangan dan reparasi," paparnya.(Rul/BCS/AKS)
Sumber : http://images1.rri.co.id/post/berita/239444/ekonomi/batam_siap_menjadi_tujuan_investasi_di_era_mea.html
No comments:
Post a Comment