Tuesday, December 22, 2015

Jadwal Talk Show ISEI Cabang Batam di RRI Batam

Berikut ini schedule Talk Show ISEI Cabang Batam yang bekerjasama dengan RRI Batam yang dimotori oleh :Wakil Ketua VI Bidang Industri dan Perdagangan Dr. Beni Bevly., S.I.P., M.M.

Topik:

6 Jan, 10:00-11:00
New Year’s Resolution: Meraih Peluang Perekonomian Batam

13 Jan, 10:00-11:00
Mensikapi Kekuatiran Akan Ancaman Arus Bebas Barang, Jasa dan Tenaga Ahli Dalam Era MEA Terhadap Kota Batam

20 Jan, 10:00-11:00
Mensikapi Arus Bebas Investasi and Capital Pada Era MEA di Batam

27 10:00-11:00
Memperkuat Manpower Batam Dalam Era MEA

REFLEKSI 87 TAHUN SUMPAH PEMUDA (ORGANISASI KEMASYARAKATAN PEMUDA DI PUSARAN PILKADA)

Oleh :


Dr. M.Gita Indrawan.,ST.,MM


Wakil Rektor Universitas Putera Batam


Ketua Bidang Pemuda MPW PP Provinsi Kepri



Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tahun 2015 ini adalah tahun politik bagi banyak daerah di seluruh Indonesia karena  pada  tanggal 9 Desember 2015 nanti akan diadakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak gelombang pertama dari tujuh gelombang yang direncanakan hingga tahun 2027, adapun pilkada serentak bulan Desember 2015 nanti adalah pilkada serentak yang pertama kali di Indonesia.

Tercatat ada 267 daerah yang bakal mengikuti pilkada serentak gelombang pertama pada 9 Desember 2015. Jumlah itu terdiri dari 9 provinsi, 36 kota dan 222 kabupaten yang serentak memilih kepala daerah, ini artinya sekitar 53 persen dari total 537 jumlah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia akan melaksanakan pilkada serentak gelombang pertama. Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mengumumkan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2015 yang telah masuk dalam database online sebanyak 96.869.739 pemilih (per 12 Oktober 2015). Jumlah tersebut terdiri dari pemilih laki-laki yang berjumlah 48.466.877, dan 48.402.861 pemilih perempuan. Data tersebut didapatkan dari sebaran pemilih di 300 kabupaten/kota, 3.591 kecamatan, 43.962 desa dan 237.790 Tempat Pemungutan Suara (TPS). Untuk pemilih yang akan pertama kali menggunakan hak pilihnya (pemilih pemula), KPU mengumumkan jumlahnya sebanyak 1.964.073 pemilih. Yang terdiri dari 986.860 pemilih laki-laki, dan 977.213 pemilih perempuan. Pemilih pemula tersebut didapat KPU dari tanggal dan tahun lahir pemilih yang paska Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 lalu telah berusia 17 tahun, dan yang akan berusia 17 tahun saat hari pemungutan suara pilkada 9 Desember mendatang. Jadi pemilih ini adalah yang berusia 17 tahun setelah hari pemungutan suara pilpres yang lalu, sampai mereka yang akan mencapai usia 17 tahun pada tanggal 9 Desember 2015 nanti.  (http://www.kpu.go.id/, 13 Oktober 2015)

Jika kita menggunakan indikator usia maka pemilih pemula merupakan bagian dari generasi muda atau pemuda, Selain itu terkait potensi pemuda, untuk kita ketahui bahwa hingga saat ini  jumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang ada di Indonesia mulai tingkat kelurahan/desa hingga tingkat nasional berjumlah ± 276.787 OKP, sedangkan berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) maka pada 2015 jumlah pemuda Indonesia mencapai 62,4 juta jiwa dan ini mencapai 25 persen dari seluruh penduduk Indonesia. (http://m.tribunnews.com/, 28 April 2015)

Melihat besarnya jumlah angka pemilih pemula dan generasi muda maka sudah barang tentu hal ini akan menjadi magnet tersendiri bagi para pasangan calon (paslon) yang akan maju bertarung dalam pilkada untuk meraih simpati dan dukungan dari kalangan pemuda.

Jika kita sejenak melihat ke belakang maka jauh sebelum Indonesia merdeka hingga hari ini, pemuda dengan gerakannya selalu memiliki peran penting dan sentral ikut serta menentukan arah perjalanan bangsa dan negara ini dari masa ke masa.

Sejarah mencatat gerakan kepemudaan Indonesia mulai menemukan arah perjuangannya sejak dimulai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 oleh para mahasiswa Sekolah Kedokteran (STOVIA) di Jakarta yaitu Sutomo, Suraji dan Gunawan Mangunkusumo  kemudian setelah melalui perjalanan panjang yang penuh lika liku perjuangan selama 20 tahun maka lahirlah konsensus nasional para pemuda Indonesia melalui organisasi kepemudaan kedaerahan dari seluruh nusantara yang diabadikan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang berbunyi : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, kemudian menjelang tahun 1945  para pemuda juga  berperan besar dalam mempercepat kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dimotori oleh Dwi Tunggal tokoh pemuda Indonesia saat itu yakni Soekarno-Hatta, kemudian pada tahun 1946 - 1949 dimana merupakan masa perang kemerdekaan, para pemuda bergabung di dalam tentara pelajar (TP/TRIP) bahu membahu dengan rakyat dan TNI melawan Belanda, pada tahun 1966 para pemuda dan mahasiswa bersama TNI serta seluruh komponen bangsa lainnya secara aktif bersama-sama berperan dalam melahirkan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yang akhirnya  mampu menumbangkan rezim pemerintahan Orde Lama.  Pada tahun 1998 para pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai macam forum bersama komponen bangsa lainnya berhasil menumbangkan rezim pemerintahan Orde Baru dan sekaligus melahirkan Era Reformasi.

 

Jadi setelah kita mengingat kembali jejak rekam gerakan pemuda di masa lalu yang telah mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa maka hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab moral bagi para pemuda Indonesia masa kini untuk tetap mampu memainkan peran strategisnya dalam ikut serta menentukan arah perjalanan bangsa tanpa harus menggadaikan jati diri dan idealisme perjuangan pemuda Indonesia yang telah terbukti dari masa ke masa.

Mengingat jumlah dan potensinya yang besar maka adalah hal yang wajar-wajar saja jika kemudian banyak tokoh politik akan selalu merayu dan menggoda para tokoh gerakan pemuda untuk ikut bergabung dalam gerbong politik mereka,  dimana oleh sebagian tokoh gerakan pemuda hal ini juga dianggap sebagai peluang untuk bisa masuk ke dalam pusaran kekuasaan dengan berbagai macam alasan dan tujuan. Akhirnya terjadilah hubungan simbiosis mutualisma yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak tersebut.

Sampai di sini hal tersebut masih dalam batas kewajaran namun kemudian hal ini menjadi masalah yang serius ketika perbedaan gerbong dan pilihan politik tersebut membuat gerakan pemuda Indonesia terpecah belah dan menimbulkan “konfrontasi” diantara para tokoh gerakan pemuda dengan membawa bendera dan gerbongnya masing-masing.

Sungguh sangat memprihatinkan ketika hari ini kita melihat gerakan pemuda Indonesia telah ikut terseret dalam arus pusaran politik praktis terutama seperti saat ini ketika menjelang pilkada di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kita melihat gerakan pemuda menjadi terpecah belah dan terkotak-kotak karena disebabkan perbedaan gerbong dan pilihan politik, hal ini sudah barang tentu akan membuat gerakan pemuda Indonesia seperti kehilangan ruh perjuangan dan idealismenya sebagai benteng terakhir rakyat dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan memerangi kebatilan.

Memang berpolitik merupakan hak setiap warga negara yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) namun sejatinya perbedaan gerbong  dan pilihan politik tersebut tidak lantas membuat gerakan pemuda Indonesia menjadi terpecah belah dan terkotak-kotak, karena sebagai penerus perjuangan bangsa para pemuda harus mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Jangan sampai kepentingan politik jangka pendek dan pragmatis melemahkan gerakan pemuda karena gerakan pemuda yang kuat dan berwibawa hanya bisa diperoleh dengan bersatunya seluruh elemen gerakan pemuda. Jadi silakan berbeda gerbong dan pilihan politik dalam pilkada namun jangan sampai kita semua terpecah belah karena perbedaan tersebut.

Sesungguhnya kiprah gerakan pemuda hari ini akan menjadi catatan bagi adik-adik generasi penerus gerakan pemuda di masa yang akan datang dan sudah seharusnya gerakan pemuda saat ini menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah perjuangan bangsa untuk mereka daripada asyik saling “konfrontasi” yang tidak ada relevansinya dalam menegakkan harkat dan marwah gerakan pemuda di mata rakyat Indonesia.

“Apakah kelemahan kita : Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)

Majulah Pemuda Indonesia!

Jayalah Negeriku Indonesia Raya!